Tuesday, April 25, 2017

Blogtour UnderWater #AskAuthor + GA

Pernah dengar istilah, we can't walk in someone else 'shoes'?

Walau mungkin saat seseorang mengalami suatu hal tak jarang juga kita dengar kalimat, 'aku tahu apa yang kamu rasakan', tetapi tentang bagaimana rasa yang benar-benar ada dalam diri masing-masing orang tentu tak akan pernah sama antara satu dengan yang lainnya. Karena semua pastinya memiliki 'sepatu' yang unik yang hanya cocok dengan pribadi masing-masing.

Saat membaca Underwater ini, kita seakan diajak menggunakan 'sepatu' milik Morgan.

Judul : UnderWater
Penulis : Merisa Reichardt
Penerjemah : Mery Riansyah
Penerbit : Spring
Tebal : 328Halaman
ISBN : 9786026044341Sinopsis :
Memaafkanmu akan membuatku bisa memaafkan diriku sendiri.

Morgan tidak bisa keluar dari pintu depan apartemennya, rumah yang dia tinggali bersama ibu dan adik laki-lakinya. Gadis itu merasa sedang berada di bawah air, tidak mampu naik ke permukaan, tidak mampu bertemu dengan teman-temannya, tidak mampu ke sekolah.

Saat Morgan kira dia tidak bisa menahan napasnya lebih lama lagi, seorang cowok pindah ke sebelah rumahnya. Evan mengingatkannya pada laut yang asin, dan semangat yang dia dapatkan dari berenang. Mungkin, Evan adalah bantuan yang dia butuhkan untuk terhubung kembali dengan dunia luar....
***
Mungkin ada beberapa teman-teman yang sudah baca review saya dari 150 halaman pertama buku ini, di sini. Kisah tentang Morgan yang karena 'sakit'nya menyebabkan ia tak berani keluar dari rumah, bahkan untuk satu langkah dari pintunya.

Namun, kemudian datang sosok Evan. Yang awalnya seakan hanya sebagai tetangga baru Morgan, tetapi akhirnya sosok Evan-pun memiliki 'rahasia' tersendiri. Juga dialah yang menjadi pemicu makin majunya proses 'penyebuhan' Morgan.
***
Seperti yang saya sebutkan diatas, bahwa dengan membaca buku ini kita seakan diajak untuk menggunakan 'sepatu' dari Morgan. Walau diawal tentunya seakan diajak menebak-nebak apa sebenarnya penyakit Morgan, apa penyebabnya. Kita diajak untuk menyelami kehidupan Morgan yang terbatas hanya di sepetak apartemennya.

Tak memiliki keberanian untuk melangkahkan kaki barang satu langkah keluar dari pintu apartemennya. Kemudian bagaimana akhirnya ia justru seakan memiliki kekuatan lebih hingga akhirnya mampu berada di depan pintu rumah tetangganya, Evan, barang sejenak.

Mungkin awalnya, ada pemikiran 'ini kenapa sih, kok segitu paranoidnya' namun, halaman demi halaman membuat kita seakan mampu meresapi apa yang sebenarnya dialami oleh Morgan. Tentang rasa bersalahnya hingga ketakutannya untuk menjadi seseorang yang mungkin sikapnya dia benci.

Buku ini menarik sekali, memberikan pengalaman untuk menjadi disisi lain seseorang yang kadang tanpa sadar kita judge tanpa mau mengerti apa sebenarnya yang ia alami. Wajib baca deh, buku ini.
***
Ah, kali ini saya berkesempatan untuk menanyakan dua buah pertanyaan pada penulis buku ini. Walau sebenarnya ada beberapa pertanyaan lain yang terpikir, namun dua pertanyaan ini yang langsung terpikir oleh saya saat diberikan kesempatan mengajukan pertanyaan.

Q : Apa yang mendorong Anda untuk menulis tentang seorang tokoh yang memiliki trauma?  
A : Duka, penyesalan dan rasa bersalah, semuanya memainkan peran besar dalam Underwater. Dalam mengeksplorasi tema ini saya harus menelaah efek berkepanjangan yang disebabkab oleh trauma. Saya ingin melihat betapa trauma itu menjadi sebuah sebuah pengalaman yang sangat personal bagi masing-masing dari kita. Karena meskipun mungkin kita mengalami suatu pengalaman traumatis yang sama, otak kita memproses peristiwa tersebut dengan cara yang unik dan pesonal - maka dari itu, perjalanan kita untuk menyembuhkan diri dari trauma pun menjadi sebuah pengalaman yang sama-sama uniknya. Trauma memiliki banyak sisi dan ada lebih dari satu cara untuk mengalaminya.
Q : Penelitian seperti apa yang Anda lakukan saat menulis Underwater? Apakah ada pengalaman-pengalaman menarik yang terjadi saat Anda melakukan penelitian tersebut?
A : Saya melakukan wawancara dengan seorang psikolog yang bekerja khususnya bagi para wanita dan gadis-gadis remaja yang memiliki kecemasan berlebihan dan agorafobia. Masukan dari beliau benar-benar penting untuk kisah ini dan tanpa beliau, Underwater tidak akan menjelma seperti ini. Pengalaman yang lebih memilukan adalah saat saya mempelajari tentang statistik kasus penembakan di sekolah-sekolah dan rencana yang harus dimiliki tiap sekolah untuk mencegah terjadinya insiden tersebut, karena sungguh inilah kenyataan di dunia kita. Mengetahui hal itu membuat saya sangat sedih.
Dan beberapa teman blogger lain pun mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengajukan pertanyaan pada penulis. Kalian bisa kunjungi 4 blog lain sesuai jadwal berikut :



Selain itu, juga ada GIVEAWAY yang nantinya akan diadakan di FP Penerbit Spring, kalian jangan lupa ikuti terus di FB. Hadiahnya ada satu buku Underwater untuk kalian yang beruntung.

Kalian cukup mengumpulkan puzzle yang ada di setiap blog host. Dan ini kepingan puzzle dari bacaaninge.
 

No comments:

Post a Comment