Friday, December 27, 2013

Labirin Rasa


Judul : Labirin Rasa
Penulis : Eka Situmorang – Sir
Penerbit : Wahyu Media
Tebal : 394 Halaman
 Sinopsis :

Siapa bilang rasa tak dapat berpetualang? Aku melakukannya.Melakukan petualangan dilabirin rasa.Ya, untuk ‘merasakan’ hati dari Pangeran Fajar-ku. Aku berharap Pangeran Fajar-ku akan datang seperti fajar. Menyinari hidupku dengan banyak hal tak terduga. Menumbuhkan jiwaku dan melepaskan dahagaku yang haus akan rasa. Rasa cinta.

Di atas bukit, aku yakin rasa ini memilih dia sebagai Pangeran Fajar-ku. Rasa luar biasa cinta yang terhujam hingga ke hatiku yang terdalam. Tapiapa, ternyata dia yang menghujam rasa luar biasa sakit juga di hatiku. Aku jadi ragu, apakah benar ia Pangeran Fajar-ku.

Terbersit pesan Eyang Kakung di pikiranku. “Kayla, cinta itu membahagiakan. Namun, jika ia sudah mulai jadi beban, lepaskan jika harus melepaskan. Beri waktu. Beri ruang untuk cinta dapat bertumbuh alami hingga ia bisa mengambil keputusan.Karena cinta tak boleh dipaksakan. Ia hinggap bebas di hati setiap orang tanpa bisa di atur.”

Baiklah. Ini saatnya aku harus melepas rasa. Namunm apa aku dapat menemukan Pangeran Fajar-ku sesungguhnya? Hanya labirin rasa ini yang mampu menuntunku kepadanya.

***

Seorang Kayla, tengah duduk dibangku kuliah semester tiga, digambarkan sebagai gadis yang ceria dan selalu blak-blakan dengan apayang dirasakannya. Suatu hari, saat handak ke Jogjakarta ia bertemu dengan seorang pria yang tampan dan dari penampilannya pria itu bukan orang biasa. Ruben, itulah nama pria itu.

Awalnya Ruben merasa terganggu dengan kehadiran Kayla, tetapi keceriaan dan sikap cablak Kayla membuat Ruben melupakan rasa terganggunya. Bahkan saat akhirnya tau mereka sama-sama ke Jogjakarta janji pertemuan selanjutnya sudah dibuat.

Waktu berjalan, kebersamaan mereka di Jogja pun semakin intens, dan benih cinta tumbuh di hati Kayla. Terlebih saat ia menerima buku peninggalan dari Almarhum YangKung-nya, dalam buku itu YangKung berpesan bahwa beliau akan mengirimkan Pangeran Fajar bagi Kayla. Dan Kayla meyakini bahwa Ruben-lah Pangeran Fajar-nya.

Hingga suatu saat hadir Veni yang ternyata adalah kekasih Ruben. Lantas bagaimana dengan Kayla, yang bahkan rela cuti kuliah dan berniat pindah kuliah di Jogja demi Ruben?

Dari sinilah petualangan itu dimulai.

Saat selesai baca, ada sedikit pertanyaan yang mengganjal yang berasal dari sinopsisnya, petualangan rasa? Hmmm…

Pertanyaan itu muncul karena aku merasa bahwa mungkin memang Kayla melakukan petualangan ke beberapa daerah, mulai dari Malang – Bali – Lombok – Makasar – Medan hingga Selandia Baru, tapi apakah rasa yang ia miliki juga berpetualang?

Rasa yang dimiliki Kayla tetap terpusat pada Ruben, Ruben dan Ruben. Walau ya, ia bertemu dengan beberapa pria (juga perempuan) dalam perjalanannya, tetapi rasa yang dimiliki Kayla bahkan sampai akhir rasanya hanya untuk Ruben. Aku jadi merasa Kayla hanya berusaha lari dari masalahnya.

Pertama ia ke Jogja-pun untuk refreshing karena nilai-nilai kuliahnya hanya berkisar nasakom, kemudian ia berpetualang di Malang karena masalah Ruben, kemudian ke Bali karena ada Dani tetapi ia tetap merasa Ruben-lah Pangeran Fajar-nya, begitu juga saat di Bali – Lombok – Makasar, ia lari dari satu masalah ke masalah lain.

Ah, tapi mungkin aku saja yang salah mengartikan kata “petualangan rasa” yang dimaksud.

Satu lagi yang menjadi ganjalan, tentang pengkhianatan yang berakibat fatal. Ah, apa jika tidak sefatal itu Kayla tetap akan memaafkan? Melihat bagaimana mudahnya Kayla kembali dan mengejar orang yang dianggapnya cinta pertamanya itu. Hmmm…

Yang menarik dari buku ini adalah lokasi-lokasi yang dikunjungi oleh Kayla, walau mungkin tidak dijabarkan secara mendetail tetapi lumayan memberikan pandangan kalau ingin melakukan wisata yang anti-mainstream. :D

Oh ya, untuk endingnya sedikit mudah ditebak. Ah… nggak mau spoiler sih, tapi clue aja (semoga gak spoiler :D), sedikit mudah ditebak setelah kata-kata pariban diulang terus dan terus :p

Beberapa kalimat yang aku suka :

Cinta itu ibarat labirin rasa, semakin kamu ingin keluar, semakin jauh kamu bisa tersesat. Lebih baik dinikmati saja proses cinta itu. Tapi, jangan membabi buta sampai melanggar norma yang ada

“Tuhan ciptakan otak dan mata. Itu adalah kamera dengan memory card yang paling canggih.”

2,5 (3 di GR) / 5 bintang untuk petualangan Kayla yang buat mupeng pengen jalan-jalan ke tempat yang diceritakannya :D

No comments:

Post a Comment